Header AD

header ads

Warga Makalisung Terusik Ancaman PT.CGDE

Kawasan Pantai Makalisung, Kecamatan Kema, Minut
Mediakawanua.com, MINUT - Status kawasan pantai Desa Makalesung, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara diklaim milik PT.Cakra Guna Dharma Eka (CGDE) kembali bergejolak. Betapa tidak, sepadan pantai yang ditempati warga eks pengungsi Halmahera sejak tahun 2000, termasuk masyarakat setempat puluhan tahun berprofesi nelayan dan beroperasi di pesisir pantai tersebut sepertinya terusik ancaman pihak Perusahaan PT.Cakra. Padahal, warga mengaku sebagian tanah milik orang tua mereka, herannya ibarat diusir dari tanah milik sendiri.
Ketidak nyamanan ini mulai dirasakan masyarakat setempat sejak bulan Desember 2019 lalu, dimana masyarakat merasa diancam untuk segera pindah dari lokasi yang diklaim milik Perusahaan. Kabarnya kawasan ini akan dipoles halnya objek wisata mirip pulau Bali.
Tak heran, masyarakat yang harusnya bersuka cita menyambut perayaan Natal Desember 2019 benar-benar hilang. Terutama ibu-ibu tidak lagi membuat kue-kue natal. Mereka justru lebih terkonsentarsi untuk berpikir pindah dari pada bentrok jika sewaktu-waktu didatangi para preman-preman mengaku dari pihak perusahaan PT.Cakra. “Torang ibu-ibu so nda semangat bikin kukis Natal. Lantaran perusahaan mengaku pegang sertifikat asli yang tidak pernah mereka perlihatkan. Mereka ja beking tako dengan petugas, katanya lagi dalam waktu dekat akan mengeksekusi lahan tersebut,” prihatin belasan ibu-ibu rumah tangga saat berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan di Desa Makalisung, Kamis (16/01/20).

Ratusan plang nama lokasi milik PT.CGDE
Padahal, keabsahan dokumen atau sertifikat kepemilikan lahan belum tentu jelas, siapa pemilik lahan sebenarnya, lahan milik siapa yang dibeli PT.Cakra ?????
Sebut saja Jerry Runtu, kepada sejumlah wartawan dia memperlihatkan sebagian lahan milik orang tuanya, tanah keluarga yang sudah teregistrasi di kantor Desa Makalisung, dena lokasi asli serta keterangannya tertera di kertas segel. Namun Perusahaan bersihkeras lahan tersebut katanya milik Perusahaan (bersertifikat). “Bagaimana mungkin, tanah ini belum kami jual. Sekarang tinggal kami keluarga, termasuk keluarga-keluarga lainnya akan tetap mempertahankan lahan ini,” sebut Runtu mengakui generasi ketiga sebagai pewaris lahan tersebut.
Lain halnya, Hendrik Lintang mengaku hampir 20 tahun bersama keluarganya menempati lahan pasir, sebutan daerah pesisir pantai Makalisung. Diperkirakan tahun 2000 lokasi ini pernah didatangi orang-orang mengaku dari Perusahaan PT. Cakra Guna Dharma Eka (CGDE). 

Dari komunikasi itu bersama beberapa masyarakat Desa cerita Hendrik, pihak Perusahaan meminta mereka untuk pindah ditempat lain yang nanti disediakan Perusahaan. Notabene mereka tidak lagi tinggal di wilayah pantai, tapi bergeser agak ke darat. 
Tak berselang lama, oknum-oknum orang suruhan perusahaan datang memasang patok, membangun pagar bambu, sebagai isyarakat agar masyarakat tidak lagi beraktivitas di wilayah pantai karena diklaim milik Perusahaan. “Namun apa yang dijanjikan perusahaan belum ditepati. Belakangan orang-orang mengaku dari perusahaan datang memberikan sejumlah uang, katanya biaya pindah. Warga ada yang pindah, lainnya masih menetap di lokasi,” ujar Hendrik.                      

Perbincangan dengan eks Kepala Desa Makalisung
“Mereka yang pindah jelas merasa terancam, mendapat tekanan dan ancaman jika tidak pindah wajib mengembalikan 10 kali lipat uang yang pernah diberikan Perusahaan. Orang yang datang katanya dari intel, mengaku dari TNI. Akibatnya masyarakat tak bisa berkutik, terpaksa pindah,” tambah Roger Bungkaren, warga setempat. 
Sementara Novlin Rogi eks Kumtua Desa Makalesung 2008-2014, juga mengaku heran dengan sepak terjang Pihak Perusahaan. Transaksi jual beli menurutnya illegal, tidak pernah melibatkan pemerintah setempat, dalam hal ini perangkat Desa.
Novlin mengatakan, jika lahan tersebut berstatus Hak Guna Usaha (HGU), setidaknya ada prosedur dan pemerintah wajib mengetahui hal ini lalu disampaikan kepada masyarakat, dan itu tidak pernah terjadi. “Saya ingat di tahun 2012, pihak perusahaan mendatangi warga yang tinggal tak jauh dari lahan pantai Makalisung dan mereka seenaknya membeli tanah, langsung melakukan pengukuran, ini aneh katanya Perusahaan bonafit,” sindir ibu Novlin setelah menerima informasi dari masyarakat, kala itu menjabat selaku Kepala Desa notabene meragukan dokumen kepemilikan lahan yang dikatongi PT.Cakra, termasuk mempertanyakan keberadaannya di Minahasa Utara. (jhet/mk)


Warga Makalisung Terusik Ancaman PT.CGDE Warga Makalisung Terusik Ancaman PT.CGDE Reviewed by mediakawanua on 2:20 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Baja Ringan

Baja Ringan
AVISHA